Touching_My_Line

Desember 2, 2008

Romantisme Cicak

Diarsipkan di bawah: Short Story — myhanekura @ 5:13 am
Tags:

“Mampus!”

Aku terkejut. Pasti Armin, pikirku dalam hati. Tergopoh-gopoh aku keluar dari kamar. Diluar kulihat Armin tengah memegangi sebelah sandal jepitnya, sedangkan sandal satunya tetap masih dipakainya, matanya melotot kepintu kamar kosnya yang terbuka lebar.

“Cicak, Min?” tanyaku sambil menghampirinya. Ia mengangguk-angguk cepat seperti orang kepedasan.

“Mampus juga dia akhirnya. Semalaman aku tak bisa tidur gara-gara dia!” ucap Armin sambil mengacungkan sandal jepit yang tengah dipegangnya kearah pintu kamarnya sendiri.

Mataku meneliti pintu kamar Armin, dibawah pintu itu tergeletak si binatang malang yang masih sedikit bergerak-gerak, cicak. Aku tertawa melihat tatapan serius mata Armin saat memandangi cicak yang sedang sekarat itu. Ia seperti jijik, takut sekaligus geli.

“Hah, tertawa ya? Menghina ya?” teriak Armin. Aku semakin mengeraskan tawaku. Anak-anak lain mulai keluar dari kamar karena mendengar suara tawaku.

“Ada apa Ji?” tanya Adi padaku sambil melirik Armin yang masih memegangi sebelah sandal jepitnya.

“Biasa,” jawabku sambil menirukan gerakan seekor cicak yang sedang merayap didinding. Anak-anak pun tertawa, Armin semakin bersungut-sungut.

“Owalaah, cicak to?” ucap Iyon sambil menepuk-nepuk bahu Armin yang tengah tegang. Anak-anak semakin keras tawanya.

“Kalian ini tak bisa mengerti!” teriak Armin sambil mengacung-acungkan sandal jepitnya pada kami, mendadak anak-anak berhenti tertawa. Aku menahan mulutku rapat-rapat.

“Wah, marah nih?” ucap Iyon lagi.”Maaf Min, habis kamu ini aneh sih.”

“Iya, maaf ya Min. aku buangkan cicaknya ya?” Armin semakin tegang. Iyon melangkah kearah cicak malang itu. Ia kemudian berjongkok.

“Kamu apakan dia Min?”

“Kulempar pakai sandal ini!” jawab Armin ketus.

“Lhoo, kon sandalnya malah kalu pegang lagi?” serta merta Armin melemparkan sandal itu kelantai tanpa pikir panjang. Semuanya yang ada disitu mulai cekikikan lagi.

“Sialan kamu Yon!”

“Lho? Kok malah sialan?” aku kan cuma mengingatkan kamu, siapa tahu ada kulit cicak yang menempel disandalmu itu. Sandal yang satunya bagaimana? Apa tidak ada kulit cicaknya juga?” ucap Iyon serius. Armin mencopot sandal yang tengah dipakainya.”Aku Cuma pakai satu sandal!” ucapnya gugup. Aku menahan tawa sebisaku.

“Lho, kok begitu? Aku kan cuma mengingatkan.”

“Sudah, diam kamu diam…!!” teriak Armin keras-keras.

“Iya, iya Min.” ucap Iyon dengan mimik muka ketakutan. Ia melirik kearahku yang masih mencoba menahan tawaku.

“Min, kubuangkan cicak putih ini ya?” ucap Iyon. Armin mengangguk ragu. Iyon menyentuh cicak malang itu.

“Ih, lihat…ekornya masih bergerak-gerak.”

“Diam Yon. Ambil saja dan buang!”

“Lha…sebentar dong, aku juga ngeri sama cicak kok!”

“Nyindir nih!”

“Lho kok nyindir, beneran kok. Ih, lihat matanya keluar, kamu sadis Min!”

“Huh, biar. Biar mampus sekalian!”

“Lidahnya terjulur Min!”

“Sudah! Diam, ayo buang!”

“Lho kok marah-marah, aku kan Cuma mau membantumu.” Kata Iyon berlama-lama. Anak-anak tetap berdiri, menunggu sambil cekikikan tertahan.

“Habis kamu juga sih. Ayo, cepat buang dong!” ucap Armin memelas. Iyon mengangkat bangkai cicak itu.

“Lihat ini Min,”

“Sudah, buang! Buang!” teriak Armin sambil mundur menjauhi Iyon.

“Enaknya dibuang kemana ya?” ucap Iyon makin usil. Armin mendelik.

“Buang sejauh-jauhnya!” Iyon bergerak, melangkah kearah Armin.

“Yon, jangan gila kamu!” teriak Armin ketakutan. Ia tampak bersiap lari.

“Kenapa gila? Aku kan mau keluar kekebun. Masa harus melompati rumah sih, aku kan harus lewat situ.” Ucap Iyon ringan. Armin pucat, ketika Iyon mulai mendekat, ia pun lari keluar halaman sambil terbirit-birit. Tawa anak-anak meledak. Aku sampai memegangi perutku yang sampai sakit karena tertawa karena melihat Armin keluar hanya mengenakan kaos singlet putih dan sarungnya yang bolong-bolong. Padahal didepan rumah kos kami ada rumah si Indri yang selama ini ditaksir Armin.

“Pendaki gunung kok takut cicak sih!” celetuk seorang anak.

“Pencinta alam kok takut cicak!” teriak Adi keras-keras. Mungkin Armin mendengarnya diluar sana sambil mengutuk marah. Jun yang baru datang bertanya-tanya.

“Oh, itu Jun, Armin ketemu sama musuh bebuyutannya…” ucap Adi.

“Pantas, tadi aku ketemu dia diwarung bubur cuma pakai singlet dan sarung saja, mukanya pucat lagi.” Gumam Jun.

“Kasihan.”

“Cicaknya dimana sekarang?”

“Lagi dibuang sama Iyon.”

“Yah, lebih baik dibuang saja. Kasihan si Armin sampai begitu.” Anak-anak mengangguk lalu masuk kekamar masing-masing sambil tersenyum.

Sorenya Armin baru pulang ke kos, ia langsung menuju kamarku. Suasana sedang sepi, mungkin kebanyakkan penghuninya sedang tidur. Aku tersenyum dalam hati melihat tingkah lakunya yang lucu. Ia menatapi dinding dikamarku secara cermat.

“Cicaknya sudah dibuang Ji?”

“Sudah, malah mungkin sudah dikubur sama si Iyon.”

“Nggak lucu,” ucap Armin cemberut. Ia duduk dikasurku setelah jelalatan sebentar.

“Kamarmu benar-benar aman?” ucapnya kemudian.

“Cicak maksudmu?”

“Yah, barangkali lagi pada ngumpet dibajuku itu.” Kataku sambil menunjuk baju yang sudah tergantung selama seminggu didinding.

“Ji!!” Armin terjingkat.

“Iya, iya….aman deh!” Aku terkikik geli.

“Huh, kamu itu!”

“Sori Min, sori!”

Armin termenung. Ia menatap kosong kedinding kamarku. Lama-lama aku merasa kasihan juga melihat wajahnya yang pucat. Kucoba mengalihkan perhatiannya.

“Min, tadi kamu ketemu Indri nggak diluar?” tanyaku.

Ia menggeleng lesu. Untung, pikirku. Seandainya ketemu, pasti Indri akan terbelalak melihat sarung Armin yang bolong-bolong. Sebab selentingan kabar sampai padaku kalau si Indri itu juga suka sama Armin.

“Untung nggak ketemu.” Ucap Armin kemudian. Aku tertawa dalam hati.

“Kalau ketemu gimana ya Min? Apalagi kamu lagi begitu.”

“Jangan suka membayangkan yang tidak-tidak!” dengus Armin.

“Bukan gitu Min, tapi kelihatannya kamu memang jarang ketemu dengan dia ya?” Armin mengangguk-angguk.

“Tapi aku heran Min, kamu sendiri juga tahu kan kalau Indri itu juga suka sama kamu?” wajah Armin memerah.

“Kelihatannya sih,”

Kan memang begitu.” Armin semakin tersipu dan aku semakin gila menggodanya.

“Kamu ingat nggak Min, saat kita pulang sekolah kemarin dan dia sedang menyirami bunga, kamu lihat dia?”

“Nggak!” ucap Armin cepat.

“Wah rugi dong, padahal dia liatin kamu terus.”

“Ah, jangan bercanda Ji!”

“Nggak percaya ya sudah…!” ucapku pura-pura ketus. Armin gelagapan.

“Iya deh, aku percaya. Aku percaya kalau sama kamu!” timpal Armin cepat.

“Tapi kenapa kamu belum juga bilang sama Indri kalau kamu suka sama dia?” Armin termenung.

“Yaa…..nggak ada waktu, lagipula sekolah kita kan beda. Kapan bisa ketemu.”

“Lho, kamu kan bisa datang kerumahnya?” Armin ragu. Ia seperti segan mengatakan seseuatu padaku.

“Kenapa, nggak berani? Apa perlu aku temani?”

“Bukan itu.” Ucapnya pelan.

“Lalu kenapa?”

“Kamu kira aku belum pernah datang kerumahnya?” Hah? Aku kaget. Ternyata sudah sampai segitu…

“Terus? Armin kelihatan ragu lagi untuk menjawab.

“Kamu ditolak?” desakku. Ia menggeleng.

“Lalu kenapa?”

“Cicak!!”

“Hah?!” desisku kaget. Apa si Indri memelihara cicak?

“Iya, cicak. Aku sudah ketemu sekali, dan tahu nggak…?”

“Nggak?” Jawabku cepat. Armin cemberut.

“Ruang tamunya….banyak sekali cicak disana!” ucap Armin sambil bergidik. Aku tertawa.

“Lalu?” desakku semakin ingin tahu.

“Aku cepat-cepat lari saja, padahal belum ada satu menit aku masuk ruang tamu itu.”

“Gimana reaksi dia?”

“Nggak apa-apa. Aku alasan sakit perut sih. Sial, padahal aku tahu kalau dia juga mengharapkan kedatanganku.”

“Kencan aja diluar.” Saranku.

“Kamu kira kencan diluar juga nggak pake jemput dia dirumahnya? Aku kan paling tidak harus duduk dulu walaupun cuma sebentar.”

“Benar juga.” Gumamku. Sungguh malang nasibmu Min.

“Tapi kamu benar-benar suka dia kan Min?” tanyaku kemudian.

“Jelas dong, kalau tidak buat apa aku tiap hari nongkrong didepan warung bubur ayam?”

“Lho, memangnya buat apa?”

“Ya buat makan bubur goblok! Sekalian nunggu Indri lewat. Aku Cuma pingin nyapa dia saja waktu pulang sekolah sore-sore dan lewat didepan warung bubur, dan liat senyumnya yang waaah…..” ucap Armin panjang sambil geleng kepala. Aku tersenyum simpul.

“Lalu gimana kamu mau apel?”

“Itu juga jadi masalah, apa kamu mau bantuin aku buat nimpukin cicak diruang tamunya?” Keluhnya memelas.

“Ngawur saja, salah-salah aku yang ditimpuk si Indri pake sandal jepitnya.”

“Yaah, lalu gimana Ji? Kamu punya saran?” aku lama tercenung.

“Begini Min,” ucapku kemudian, “Kamu harus belajar jadi orang romantis.”

“Orang romantis? Apa hubungannya sama cicak? Orang romantis kan bawa bunga untuk ceweknya?”

“Salah. Orang romantis itu adalah orang yang rela berjuang demi kekasihnya. Apa orang yang bawa bunga mawar itu bisa disebut perjuangan? Apa susahnya sih bawa mawar yang cuma seikat itu didepan kekasih kita? Atau bahkan, kita mungkin suma nyamber bunga dari kebun tetangga.”

“Lalu yang romantis itu seperti apa?”

“Bunga mawar yang ingin kau persembahkan pada kekasihmu itu dapat dikatakan romantis kalau kamu benar-benar berjuang mendapatkannya. Misalnya, bunga mawar itu hanya tumbuh dipuncak tebing karang yang tinggi disbuah gunung yang lebih tinggi dari gunung Himalaya. Lalu tebing karang itu pun dijaga oleh seekor naga raksasa yang suka sekali menyantap para pendaki gunung. Lalu dengan perjuangan yang berat engkau pun berhasil membawa bunga mawar itu pada kekasihmu. Nah, itu baru dinamakan romantis.” Kulihat Armin tercengang, mungkin dia sedang membayangkan ceritaku barusan yang kubuat sehebat mungkin.

“Lalu, apa hubungannya romantisme dengan cicak?”

“Perjuangan Min, perjuangan!”

“Perjuangan?”

“Iya, masa sama naga yang suka nelan pendaki gunung saja bisa menang, kok sama cicak tidak! Apa cicak itu bisa menelanmu?” Armin kembali mengangguk-angguk seperti kerbau yang dicocok hidungnya.

“Tapi, apa benar-benar begitu?”

“Katanya kamu percaya sama aku!” kataku sedikit menekan.

…….

Sejak saat itu Armin berubah sedikit demi sedikit. Ia mulai tak peduli pada omongan anak-anak tentang cicak untuk menggodanya. Anak-anak terheran-heran. Iyon yang paling getol menggoda Armin datang padaku dan bertanya.

“Kamu apakan si Armin? Kok jadi pemberani dia?”

“Nggak kuapa-apain kok!”

“Masa? Sekarang dia kelihatannya agak berani berdekatan dengan cicak?”

“Masa?”

“Iya! Lha, itu…kemarin aku kan masuk kekamarnya dan langsung teriak ‘Cicak’! tapi dia malah Cuma senyam-senyum sendiri menatapku, kan jadinya aku yang jadi terlihat gila. Iya kan?”

“Mungkin dia lagi belajar jadi orang romantis.”

“Apa hubungannya romantis sama cicak?”

“Orang romantis kan tidak takut naga ataupun cicak.”

“Lho?” kutinggalkan Iyon yang tengah kebingungan sambil menggaruk-garuk kepalanya sendiri. Aku berhasil, pikirku. Armin tak takut lagi pada cicak. Ia benar-benar telah berjuang sebagai orang yang romantis.

Disuatu sore, Armin tiba-tiba saja nyelonong masuk kedalam kamarku sambil membawa sebungkus roti wafer kesukaanku. Aku sudah menduga pasti….

“Berhasil Ji! Berhasil!” ucapnya gembira.

“Kamu sudah bilang suka padanya?”

“Ya! Dan dia pun bilang suka padaku, she said yes!”

“Selamat Min!” Sahutku sambil mengulurkan tangan menyalaminya, “Dan terima kasih untuk roti wafernya.”

“Lho?”

“Kenapa?”

“Roti itu kan bukan buat kamu?”

“Eh, nggak bisa dong! Aku kan sudah menolongmu dan itu nggak gratis!” ucapku usil sambil menyambar bungkusan roti yang tergeletak diatas meja belajarku. Tangan Armin kurang cepat, aku berhasil menyambar terlebih dulu. Aku tersenyum-senyum sendiri, tapi ups! Apa ini?! Mendadak tanganku menyentuh benda kenyal dibungkusan roti. Cicak!! Serta merta kubuang bungkusan roti itu kelantai, menimpa cicak yang ada dibaliknya.

“Lho, kenapa Ji?” tanya Armin keheranan. Wajahku pucat, tanganku gemetar.

“Kamu takut sama cicak juga Ji? Ah, masa sih?” ucap Armin sambil memungut cicak itu dari lantai. Aku melangkah mundur.

“Heh? Kamu benar-benar takut ya?” ledek Armin sambil membawa cicak itu mendekati aku yang tersudut dipojok ruangan. Ia mulai tersenyum-senyum jahat.

“Min…..jangan Min!”

“He…he…he…!” tawanya sambil mengulurkan cicak itu padaku. Ya Tuhan, ketahuan juga akhirnya. Naga sih nggak apa-apa, tapi cicak? Alamak!

“Min, jangan Min! Jangan main-main!!”

Armin terus maju.

“Toloooooooooong!!!”

+OWARI+

Dedicated to my big bro’ who’s pending this story for along…long time. Hi bro….1′ve done \ ^_^ /

Agustus 26, 2008

Jalan Sepi

Diarsipkan di bawah: Puisiku — myhanekura @ 6:25 am

Siapakah aku?
Akulah tragedi
nyala dan bara yang
tak juga mati
walau hujan dan angin
selalu setia menemani
dukaku adalah perlambang
bahwa aku masih mencari
jalan terdekat menuju
alam mati

berilah aku mati Mu
namun jangan beri aku
mati manusiaku
sebab pada mati Mu akan
kutemukan manusiaku
namun pada manusia ini
hanyalah ada kematianku

penyair tak berduri

…..Tuhan,…….

Diarsipkan di bawah: Puisiku — myhanekura @ 6:19 am

Tuhan,
benarkah hidup ini nonsens?
tiap kali kuamati
segala sesuatu bagiku terasa sia-sia

Tuhan,
untuk apa kami diciptakan?
apakah hanya untuk mengabdi padamu
serta mengenalmu

Tuhan,
mengapa engkau ingin dikenal?
dan mengapa
aku ingin bertanya demikian?

Tuhan,
aku hanyalah sebutir makhluk
dari bermilyar bintang yang kau ciptakan
adakah diriku ini
berarti bagi-Mu

penyair tak berduri

…to my beloved prince ^_^…

Diarsipkan di bawah: Puisiku — myhanekura @ 6:17 am

…then…
You’ll always be mine for now and forever.
You’ll always be mine for your my treasure.
If you will always be mine, listen to my heart, can you hear it sing, telling me to give you everything.
Season and day my change, but i love you until the end of time.
Meeting you was fate, becoming your friend was choice, but falling in love with you was completelly out of my control.
When your with me, i could see the love from your eyes, i could hear the love from yor mouth. I could feel the love from your heart.
Sometimes word are hard to find, to form that perfect line to let you know you are always on my mind.
The Smallest word i know is “I”, the sweetest word i know is “LOVE”, and the only thing that will remind me of that will be “YOU”

A Sight Inwards

Diarsipkan di bawah: My Favourite Song's — myhanekura @ 6:15 am

A shade of terror
Right before midnight
He sent some guards to search for her
Orpheus’ soul was slowly drowning
Into a pit of burning fear
His love was lost

As he discovered
Eurydice’s sad fate
A twisted thought went through his mind
He sailed to north following the coast of
The Ionic Sea heading for the
Dark river Styx

Enchanting Charon Orpheus reached
Those shores full of shades
In the Reign of the damned
By his golden lyre
He brought peace for a while

With the Queen of Hades
A deal was made
A new hope for his bride

The nymph could return
Back to life again
But on the path that leads to light
Orpheus must not take a single look at her
Or she’d belong to death’s Realm
Forevermore

When the warm rays of the morning sun
Broke the darkness of the cave
For a moment he forgot the deal
And he lost his beloved bride
Again

[music: Bucci/Scazzocchio, lyrics: Bucci from STORMLORD]

Agustus 16, 2008

Daffodil Lament

Diarsipkan di bawah: My Favourite Song's — myhanekura @ 6:31 am

holding on that’s what i do

since i meet you

and wont be long, would you notice

if i left you, and it’s fine for some

cause your not the one

all night long, i laid on my pillow

these things are wrong

i cant sleep here

so lovely – so lovely….

i have decided to leave you forever

i have to start right from here

thunder and lightning wont change what i’m feeling

and the daffodil like looks lovely today

in your eyes i can see the the disguise

in your eyes i can see the dismay

it do anyone sees lightning

it do anyone looked so lovely

and the daffodil looked lovely today

look lovely….look lovely….

( the Cranberries)

Then….

Diarsipkan di bawah: Puisiku — myhanekura @ 6:15 am

…are you see the rain

falling down from my eyes

when i thinking of my self

i feel so upset

can you help me out

weeping my sadness

then can i reach your hands

to dissapears my pains

Agustus 15, 2008

THE LITTLE BLACK BOY

Diarsipkan di bawah: Not my poet — myhanekura @ 7:51 am
Tags: ,

My mother bore me in the southern wild,
And I  am black, but oh my soul is white!
White as an angel is the English child,
But I am black, as if bereaved of light.

My mother taught me underneath a tree,
And, sitting down before the heat of day,
She took me on her lap and kissed me,
And, pointed to the east, began to say:

"Look on the rising sun: there God does live,
And gives His light, and gives His heat away,
And flowers and trees and beasts and men receive
Comfort in morning, joy in the noonday.

"And we are put on earth a little space,
That we may learn to bear the beams of love
And these black bodies and this sunburnt face
Is but a cloud, and like a shady grove.

"For when our souls have learn'd the heat to bear,
The cloud will vanish, we shall hear His voice,
Saying, 'Come out from the grove, my love and care
And round my golden tent like lambs rejoice',"

Thus did my mother say, and kissed me;
And thus I say to little English boy.
When I from black and he from white cloud free,
And round the tent of God like lambs we joy

I'll shade him from the heat till he can bear
To lean in joy upon our Father's knee;
And then I'll stand and stroke his silver hair,
And be like him, and he will then love me.

Agustus 12, 2008

Pertapa Tak Bergigi

Diarsipkan di bawah: Puisiku — myhanekura @ 8:54 am

Aku adalah pertapa tak bergigi
gigi susuku bahkan terlambat tumbuh
termakan jaman dan kemunafikan
akankah gigiku tumbuh sempurna lagi
menjadi putih berkilat menawan hati
atau hitam pekat merapuh kemudian hilang
musnah…

Juli 8, 2008

Be With You

Diarsipkan di bawah: Puisiku — myhanekura @ 8:32 am

I Wanna be with you

But I can’t be with you

How can I do to make you be with me

But no, I can’t do…

Just wish can be with you


Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com.