“Mampus!”
Aku terkejut. Pasti Armin, pikirku dalam hati. Tergopoh-gopoh aku keluar dari kamar. Diluar kulihat Armin tengah memegangi sebelah sandal jepitnya, sedangkan sandal satunya tetap masih dipakainya, matanya melotot kepintu kamar kosnya yang terbuka lebar.
“Cicak, Min?” tanyaku sambil menghampirinya. Ia mengangguk-angguk cepat seperti orang kepedasan.
“Mampus juga dia akhirnya. Semalaman aku tak bisa tidur gara-gara dia!” ucap Armin sambil mengacungkan sandal jepit yang tengah dipegangnya kearah pintu kamarnya sendiri.
Mataku meneliti pintu kamar Armin, dibawah pintu itu tergeletak si binatang malang yang masih sedikit bergerak-gerak, cicak. Aku tertawa melihat tatapan serius mata Armin saat memandangi cicak yang sedang sekarat itu. Ia seperti jijik, takut sekaligus geli.
“Hah, tertawa ya? Menghina ya?” teriak Armin. Aku semakin mengeraskan tawaku. Anak-anak lain mulai keluar dari kamar karena mendengar suara tawaku.
“Ada apa Ji?” tanya Adi padaku sambil melirik Armin yang masih memegangi sebelah sandal jepitnya.
“Biasa,” jawabku sambil menirukan gerakan seekor cicak yang sedang merayap didinding. Anak-anak pun tertawa, Armin semakin bersungut-sungut.
“Owalaah, cicak to?” ucap Iyon sambil menepuk-nepuk bahu Armin yang tengah tegang. Anak-anak semakin keras tawanya.
“Kalian ini tak bisa mengerti!” teriak Armin sambil mengacung-acungkan sandal jepitnya pada kami, mendadak anak-anak berhenti tertawa. Aku menahan mulutku rapat-rapat.
“Wah, marah nih?” ucap Iyon lagi.”Maaf Min, habis kamu ini aneh sih.”
“Iya, maaf ya Min. aku buangkan cicaknya ya?” Armin semakin tegang. Iyon melangkah kearah cicak malang itu. Ia kemudian berjongkok.
“Kamu apakan dia Min?”
“Kulempar pakai sandal ini!” jawab Armin ketus.
“Lhoo, kon sandalnya malah kalu pegang lagi?” serta merta Armin melemparkan sandal itu kelantai tanpa pikir panjang. Semuanya yang ada disitu mulai cekikikan lagi.
“Sialan kamu Yon!”
“Lho? Kok malah sialan?” aku kan cuma mengingatkan kamu, siapa tahu ada kulit cicak yang menempel disandalmu itu. Sandal yang satunya bagaimana? Apa tidak ada kulit cicaknya juga?” ucap Iyon serius. Armin mencopot sandal yang tengah dipakainya.”Aku Cuma pakai satu sandal!” ucapnya gugup. Aku menahan tawa sebisaku.
“Lho, kok begitu? Aku kan cuma mengingatkan.”
“Sudah, diam kamu diam…!!” teriak Armin keras-keras.
“Iya, iya Min.” ucap Iyon dengan mimik muka ketakutan. Ia melirik kearahku yang masih mencoba menahan tawaku.
“Min, kubuangkan cicak putih ini ya?” ucap Iyon. Armin mengangguk ragu. Iyon menyentuh cicak malang itu.
“Ih, lihat…ekornya masih bergerak-gerak.”
“Diam Yon. Ambil saja dan buang!”
“Lha…sebentar dong, aku juga ngeri sama cicak kok!”
“Nyindir nih!”
“Lho kok nyindir, beneran kok. Ih, lihat matanya keluar, kamu sadis Min!”
“Huh, biar. Biar mampus sekalian!”
“Lidahnya terjulur Min!”
“Sudah! Diam, ayo buang!”
“Lho kok marah-marah, aku kan Cuma mau membantumu.” Kata Iyon berlama-lama. Anak-anak tetap berdiri, menunggu sambil cekikikan tertahan.
“Habis kamu juga sih. Ayo, cepat buang dong!” ucap Armin memelas. Iyon mengangkat bangkai cicak itu.
“Lihat ini Min,”
“Sudah, buang! Buang!” teriak Armin sambil mundur menjauhi Iyon.
“Enaknya dibuang kemana ya?” ucap Iyon makin usil. Armin mendelik.
“Buang sejauh-jauhnya!” Iyon bergerak, melangkah kearah Armin.
“Yon, jangan gila kamu!” teriak Armin ketakutan. Ia tampak bersiap lari.
“Kenapa gila? Aku kan mau keluar kekebun. Masa harus melompati rumah sih, aku kan harus lewat situ.” Ucap Iyon ringan. Armin pucat, ketika Iyon mulai mendekat, ia pun lari keluar halaman sambil terbirit-birit. Tawa anak-anak meledak. Aku sampai memegangi perutku yang sampai sakit karena tertawa karena melihat Armin keluar hanya mengenakan kaos singlet putih dan sarungnya yang bolong-bolong. Padahal didepan rumah kos kami ada rumah si Indri yang selama ini ditaksir Armin.
“Pendaki gunung kok takut cicak sih!” celetuk seorang anak.
“Pencinta alam kok takut cicak!” teriak Adi keras-keras. Mungkin Armin mendengarnya diluar sana sambil mengutuk marah. Jun yang baru datang bertanya-tanya.
“Oh, itu Jun, Armin ketemu sama musuh bebuyutannya…” ucap Adi.
“Pantas, tadi aku ketemu dia diwarung bubur cuma pakai singlet dan sarung saja, mukanya pucat lagi.” Gumam Jun.
“Kasihan.”
“Cicaknya dimana sekarang?”
“Lagi dibuang sama Iyon.”
“Yah, lebih baik dibuang saja. Kasihan si Armin sampai begitu.” Anak-anak mengangguk lalu masuk kekamar masing-masing sambil tersenyum.
Sorenya Armin baru pulang ke kos, ia langsung menuju kamarku. Suasana sedang sepi, mungkin kebanyakkan penghuninya sedang tidur. Aku tersenyum dalam hati melihat tingkah lakunya yang lucu. Ia menatapi dinding dikamarku secara cermat.
“Cicaknya sudah dibuang Ji?”
“Sudah, malah mungkin sudah dikubur sama si Iyon.”
“Nggak lucu,” ucap Armin cemberut. Ia duduk dikasurku setelah jelalatan sebentar.
“Kamarmu benar-benar aman?” ucapnya kemudian.
“Cicak maksudmu?”
“Yah, barangkali lagi pada ngumpet dibajuku itu.” Kataku sambil menunjuk baju yang sudah tergantung selama seminggu didinding.
“Ji!!” Armin terjingkat.
“Iya, iya….aman deh!” Aku terkikik geli.
“Huh, kamu itu!”
“Sori Min, sori!”
Armin termenung. Ia menatap kosong kedinding kamarku. Lama-lama aku merasa kasihan juga melihat wajahnya yang pucat. Kucoba mengalihkan perhatiannya.
“Min, tadi kamu ketemu Indri nggak diluar?” tanyaku.
Ia menggeleng lesu. Untung, pikirku. Seandainya ketemu, pasti Indri akan terbelalak melihat sarung Armin yang bolong-bolong. Sebab selentingan kabar sampai padaku kalau si Indri itu juga suka sama Armin.
“Untung nggak ketemu.” Ucap Armin kemudian. Aku tertawa dalam hati.
“Kalau ketemu gimana ya Min? Apalagi kamu lagi begitu.”
“Jangan suka membayangkan yang tidak-tidak!” dengus Armin.
“Bukan gitu Min, tapi kelihatannya kamu memang jarang ketemu dengan dia ya?” Armin mengangguk-angguk.
“Tapi aku heran Min, kamu sendiri juga tahu kan kalau Indri itu juga suka sama kamu?” wajah Armin memerah.
“Kelihatannya sih,”
Kan memang begitu.” Armin semakin tersipu dan aku semakin gila menggodanya.
“Kamu ingat nggak Min, saat kita pulang sekolah kemarin dan dia sedang menyirami bunga, kamu lihat dia?”
“Nggak!” ucap Armin cepat.
“Wah rugi dong, padahal dia liatin kamu terus.”
“Ah, jangan bercanda Ji!”
“Nggak percaya ya sudah…!” ucapku pura-pura ketus. Armin gelagapan.
“Iya deh, aku percaya. Aku percaya kalau sama kamu!” timpal Armin cepat.
“Tapi kenapa kamu belum juga bilang sama Indri kalau kamu suka sama dia?” Armin termenung.
“Yaa…..nggak ada waktu, lagipula sekolah kita kan beda. Kapan bisa ketemu.”
“Lho, kamu kan bisa datang kerumahnya?” Armin ragu. Ia seperti segan mengatakan seseuatu padaku.
“Kenapa, nggak berani? Apa perlu aku temani?”
“Bukan itu.” Ucapnya pelan.
“Lalu kenapa?”
“Kamu kira aku belum pernah datang kerumahnya?” Hah? Aku kaget. Ternyata sudah sampai segitu…
“Terus? Armin kelihatan ragu lagi untuk menjawab.
“Kamu ditolak?” desakku. Ia menggeleng.
“Lalu kenapa?”
“Cicak!!”
“Hah?!” desisku kaget. Apa si Indri memelihara cicak?
“Iya, cicak. Aku sudah ketemu sekali, dan tahu nggak…?”
“Nggak?” Jawabku cepat. Armin cemberut.
“Ruang tamunya….banyak sekali cicak disana!” ucap Armin sambil bergidik. Aku tertawa.
“Lalu?” desakku semakin ingin tahu.
“Aku cepat-cepat lari saja, padahal belum ada satu menit aku masuk ruang tamu itu.”
“Gimana reaksi dia?”
“Nggak apa-apa. Aku alasan sakit perut sih. Sial, padahal aku tahu kalau dia juga mengharapkan kedatanganku.”
“Kencan aja diluar.” Saranku.
“Kamu kira kencan diluar juga nggak pake jemput dia dirumahnya? Aku kan paling tidak harus duduk dulu walaupun cuma sebentar.”
“Benar juga.” Gumamku. Sungguh malang nasibmu Min.
“Tapi kamu benar-benar suka dia kan Min?” tanyaku kemudian.
“Jelas dong, kalau tidak buat apa aku tiap hari nongkrong didepan warung bubur ayam?”
“Lho, memangnya buat apa?”
“Ya buat makan bubur goblok! Sekalian nunggu Indri lewat. Aku Cuma pingin nyapa dia saja waktu pulang sekolah sore-sore dan lewat didepan warung bubur, dan liat senyumnya yang waaah…..” ucap Armin panjang sambil geleng kepala. Aku tersenyum simpul.
“Lalu gimana kamu mau apel?”
“Itu juga jadi masalah, apa kamu mau bantuin aku buat nimpukin cicak diruang tamunya?” Keluhnya memelas.
“Ngawur saja, salah-salah aku yang ditimpuk si Indri pake sandal jepitnya.”
“Yaah, lalu gimana Ji? Kamu punya saran?” aku lama tercenung.
“Begini Min,” ucapku kemudian, “Kamu harus belajar jadi orang romantis.”
“Orang romantis? Apa hubungannya sama cicak? Orang romantis kan bawa bunga untuk ceweknya?”
“Salah. Orang romantis itu adalah orang yang rela berjuang demi kekasihnya. Apa orang yang bawa bunga mawar itu bisa disebut perjuangan? Apa susahnya sih bawa mawar yang cuma seikat itu didepan kekasih kita? Atau bahkan, kita mungkin suma nyamber bunga dari kebun tetangga.”
“Lalu yang romantis itu seperti apa?”
“Bunga mawar yang ingin kau persembahkan pada kekasihmu itu dapat dikatakan romantis kalau kamu benar-benar berjuang mendapatkannya. Misalnya, bunga mawar itu hanya tumbuh dipuncak tebing karang yang tinggi disbuah gunung yang lebih tinggi dari gunung Himalaya. Lalu tebing karang itu pun dijaga oleh seekor naga raksasa yang suka sekali menyantap para pendaki gunung. Lalu dengan perjuangan yang berat engkau pun berhasil membawa bunga mawar itu pada kekasihmu. Nah, itu baru dinamakan romantis.” Kulihat Armin tercengang, mungkin dia sedang membayangkan ceritaku barusan yang kubuat sehebat mungkin.
“Lalu, apa hubungannya romantisme dengan cicak?”
“Perjuangan Min, perjuangan!”
“Perjuangan?”
“Iya, masa sama naga yang suka nelan pendaki gunung saja bisa menang, kok sama cicak tidak! Apa cicak itu bisa menelanmu?” Armin kembali mengangguk-angguk seperti kerbau yang dicocok hidungnya.
“Tapi, apa benar-benar begitu?”
“Katanya kamu percaya sama aku!” kataku sedikit menekan.
…….
Sejak saat itu Armin berubah sedikit demi sedikit. Ia mulai tak peduli pada omongan anak-anak tentang cicak untuk menggodanya. Anak-anak terheran-heran. Iyon yang paling getol menggoda Armin datang padaku dan bertanya.
“Kamu apakan si Armin? Kok jadi pemberani dia?”
“Nggak kuapa-apain kok!”
“Masa? Sekarang dia kelihatannya agak berani berdekatan dengan cicak?”
“Masa?”
“Iya! Lha, itu…kemarin aku kan masuk kekamarnya dan langsung teriak ‘Cicak’! tapi dia malah Cuma senyam-senyum sendiri menatapku, kan jadinya aku yang jadi terlihat gila. Iya kan?”
“Mungkin dia lagi belajar jadi orang romantis.”
“Apa hubungannya romantis sama cicak?”
“Orang romantis kan tidak takut naga ataupun cicak.”
“Lho?” kutinggalkan Iyon yang tengah kebingungan sambil menggaruk-garuk kepalanya sendiri. Aku berhasil, pikirku. Armin tak takut lagi pada cicak. Ia benar-benar telah berjuang sebagai orang yang romantis.
Disuatu sore, Armin tiba-tiba saja nyelonong masuk kedalam kamarku sambil membawa sebungkus roti wafer kesukaanku. Aku sudah menduga pasti….
“Berhasil Ji! Berhasil!” ucapnya gembira.
“Kamu sudah bilang suka padanya?”
“Ya! Dan dia pun bilang suka padaku, she said yes!”
“Selamat Min!” Sahutku sambil mengulurkan tangan menyalaminya, “Dan terima kasih untuk roti wafernya.”
“Lho?”
“Kenapa?”
“Roti itu kan bukan buat kamu?”
“Eh, nggak bisa dong! Aku kan sudah menolongmu dan itu nggak gratis!” ucapku usil sambil menyambar bungkusan roti yang tergeletak diatas meja belajarku. Tangan Armin kurang cepat, aku berhasil menyambar terlebih dulu. Aku tersenyum-senyum sendiri, tapi ups! Apa ini?! Mendadak tanganku menyentuh benda kenyal dibungkusan roti. Cicak!! Serta merta kubuang bungkusan roti itu kelantai, menimpa cicak yang ada dibaliknya.
“Lho, kenapa Ji?” tanya Armin keheranan. Wajahku pucat, tanganku gemetar.
“Kamu takut sama cicak juga Ji? Ah, masa sih?” ucap Armin sambil memungut cicak itu dari lantai. Aku melangkah mundur.
“Heh? Kamu benar-benar takut ya?” ledek Armin sambil membawa cicak itu mendekati aku yang tersudut dipojok ruangan. Ia mulai tersenyum-senyum jahat.
“Min…..jangan Min!”
“He…he…he…!” tawanya sambil mengulurkan cicak itu padaku. Ya Tuhan, ketahuan juga akhirnya. Naga sih nggak apa-apa, tapi cicak? Alamak!
“Min, jangan Min! Jangan main-main!!”
Armin terus maju.
“Toloooooooooong!!!”
+OWARI+
Dedicated to my big bro’ who’s pending this story for along…long time. Hi bro….1′ve done \ ^_^ /